Rabu, 16 Oktober 2013

Mesin Koreksi Warna TERMAHAL di Dunia (Mesin cetak mahal-mahal kok malah untuk koreksi warna?)

Semangat pagi Bapak Bapak.
Apa kabar?
Senang sekali pagi ini saya bisa bertemu dengan
Team hebat yang ada di Percetakan…….
(biasanya peserta akan tersenyum senyum malu dan senang, he. he…)

Hari ini kita akan belajar
  1. Bagaimana Mesin Cetak yang harganya Milyard-an rupiah tidak lagi berfungsi sebagai Mesin Koreksi warna, melainkan sebagai mesin Cetak yang hanya Mencetak titik raster yang sudah ada dipelat cetak secara normal sesuai Standard cetak
  2. Bagaimana menghindari “susah dapat warna yang tepat atau mengejar warna di mesin cetak”
  3. Meningkatkan efisiensi kerja. Mengurangi masalah-masalah yang seringkali menyebabkan revisi, ulang di pracetak maupun desain

Apakah Anda semua siap?
Siap…..bu! (dengan suara lantang ala tentara, he..he…)

Kira kira begitulah saat saya memmberikan Inhouse Training di percetakan-percetakan dalam topik Print Color Management, dimana kita akan melakukan suatu proses Standarisasi dan Kalibrasi mulai dari Cetak, Pracetak, Desain dan Komunikasi dengan Klien. Yang selalu menarik saat pelatihan tersebut adalah tatkala saya mengatakan statement bahwa:
Seharusnya bagian cetak tidak boleh melakukan koreksi warna dan mengejar-ngejar warna sesuai Contoh klien. Melainkan mencetak secara normal sesuai Standard Cetak. Apabila warna tidak sesuai, maka yang harus diperhatikan adalah Proses di Pracetak dan Pembuatan digital file dari awalnya dan juga proses pembuatan Proofnya.

Yes, Yes, Yes …dalam seketika lima belas orang bagian cetak berdiri sambil tertawa dan menunjuk nunjuk rekan rekan pracetak dan desain. Sebagian ada yang memukul mukul meja sangkin senangnya mendengar Statement saya tadi.

Sayapun tersenyum senyum melihat suasana kelas yang heboh. Lalu saya bertanya, memangnya kenapa, kok heboh sekali bagian cetak?
Lalu mereka menjawab, selama ini apabila warna cetak tidak sesuai dengan contoh dari klien atau marketing (contoh proof berasal dari inkjet printer biasa yang tidak dikalibrasi) maka bagian cetak “diwajibkan” mengejar warna dan melakukan koreksi warna sedemikian rupa hingga warna dapat. Misalkan ada gambar warna merahnya tidak sesuai dengan proof, maka yang harusnya standard density cetak Magenta 1.4, akhirnya harus dinaikan sampai “setebal-tebalnya” yang kemudian diikuti masalah cetakan jadi kotor dan sebagainya, pokoknya “stress” deh bu…… (curhat ni yee…)
Kadang dimesin cetak, untuk mencari warna yang tepat (make ready time) yang biasanya 10 menit terkadang bisa hampir 1,5 jam sendiri, itupun kadang tidak sesuai juga warnanya. Kita bingung bu. Kata orang desain dan prepress, mereka bekerja apa adanya sesuai Data digital dari klien, tidak dirubah rubah. Kita (bagian cetak) selalu jadi kambing hitamnya bu.., cape deh… jawab salah saorang dari bagian cetak.
Baik. Baik…Justru selama tiga hari pelatihan ini, kita akan sama sama mengidentifikasi permasalahan dan melakukan suatu perbaikan serta membuat suatu standarisasi dan Standard Operating Procedure yang lebih tepat. Saya mengingatkan bahwa Antar department tidak boleh saling menyalahkan, melainkan harus bekerjasama dan bersinergi menghasilkan hasil cetak yang terbaik.

Dalam perjalanan pulang sehabis memberikan training, saya merenung sejenak. Mengapa ya banyak terjadi di Bagian cetak, seringkali orang mengejar-ngejar warna dan melakukan koreksi warna demi tercapainya warna sesuai keinginan pelanggan?

Saya menemukan ada beberapa alasan:
  1. Dulu (sebelum tahun 2000) diera jaman Imagesetter (Computer to Film) umumnya bagian cetak hanya menerima film separasi dan contoh proof dari mesin progressive proof yang sifatnya seperti mesin cetak. Sehingga warna proofnya sangat mendekati hasil cetak sebenarnya.
  2. Setelah memasuki era CtP (computer to Plate) klien datang membawa data digital dan proof warna dari inkjet printer dikantornya yang tidak dikalibarsi dan notabene tikda bisa dijadikan standard Proof untuk patokan cetak. Dan sayangnya hal ini belum tersosialisasi dengan baik di kalangan desainer grafis maupun klien.
Oleh karena itu masalah tentang warna tidak ada pernah habis habisnya. Solusinya hanya satu, Percetakan harus terlebih dulu mengimplementasi Color Management System baru selanjutnya bisa mengarahkan kliennya.

Saya, Anne Dameria dan semua team di Link & Match Graphics berkomitmen untuk membagikan Rahasia Sukses Color Management ke seluruh Indonesia. Supaya Orang Indonesia juga mampu berkompetisi mengerjakan projek projek Multi nasional.

Kita harus bisa dan pasti bisa,Let’s do it! Togather We Can!Salam Sukses bagi kita semua!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar